Saturday, December 16, 2017

Binsus Blog

Sektor Pendidikan dalam Menanggapi HIV dan AIDS

Written by 
Rate this item
(0 votes)

Setiap tahun di seluruh Asia hampir setengah dari penderita HIV baru adalah anak-anak yang berada pada usia sekolah dan remaja di bawah usia 25 tahun. Sementara dana internasional terbesar kebanyakan selama beberapa dekade terakhir telah digunakan untuk menyediakan obat-obatan anti retrovirus bagi mereka yang telah terinfeksi, generasi baru dari anak-anak yang tumbuh dewasa tanpa pengetahuan yang cukup tentang bagaimana melindungi diri mereka dari HIV. Dalam survei baru-baru ini, Laporan Pemerintah UNGASS Indonesia pada tahun 2008-09 mempublikasikan persentase wanita dan pria muda usia 15-24 yang dapat mengidentifikasi cara-cara pencegahan penularan HIV melalui hubungan seksual dan mereka yang menyangkal kesalahpahaman tentang penularan HIV secara benar berada dalam angka rendah yang mengkhawatirkan pada tingkat rata-rata 14.3%.

 

Penginvestasian dalam obat dan pengobatan anti-retrovirus bagi orang-orang yang hidup dengan HIV terbukti telah berhasil. Sebagai sebuah hasil dari usaha ini ratusan ribu nyawa telah terselamatkan, dan mereka yang hidup dengan HIV sekarang hampir mendekati kehidupan "normal" yang diharapkan, tapi stigma yang berlaku dan diskriminasi berlanjut sehingga tetap memungkinkan sebagian besar dari mereka menerima pengobatan dan perawatan yang layak, juga kesempatan pekerjaan baik di sektor swasta dan publik. Stigma yang sama ini dan diskriminasi adalah sebuah faktor kontribusi utama untuk menyebarkan epidemik yang menghalangi dan membatasi lingkungan terhadap mereka yang hidup dengan virus ini untuk berbagi pengalaman dalam mendidik yang lain sebagai usaha pencegahan.

 

Apa yang dapat dipelajari oleh sektor pendidikan dari keberhasilan intervensi kesehatan ini? Bagaimana kita membuat sektor pendidikan merespon secara sama dengan efektif? Bagaimana kita dapat membantu orang-orang muda membuat informasi dan keputusan yang bijak berhubungan dengan seks dan obat-obatan? Bagaimana kita mencegah HIV di kalangan generasi muda baru? Bagaimana kita mengurangi stigma dan diskriminasi bagi mereka yang terjangkit HIV?

 

Kami mendiskusikan hal ini dengan Ahmed Afzal, yang merupakan konsultan bagi UNESCO kantor daerah regional untuk negara Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina dan Timor-Leste dalam HIV dan AIDS dan Sekolah Kesehatan.

 

Mandat global UNESCO UNAIDS dalam Divisi Pekerja untuk mendukung kerangka kerja EDUCAIDS, yang merupakan insiatif global PBB pada Pendidikan dan HIV dan AIDS. EDUCAIDS, dipimpin UNESCO, berfokus pada peran pendidikan dalam mencegah penularan HIV dan pada usaha-usaha untuk mengurangi akibat dari epidemik ini di sektor pendidikan. UNESCO mengkoordinasikan usaha-usaha interagensi PBB dan program-program yang berhubungan dengan AIDS dan pendidikan menggunakan dana program reguler dalam sektor pendidikan dan ekstra dana seperti dari dana budget ekstra seperti UNAIDS UBW (Unified Budget and Work-Plan).

 

Tujuan utama dari Kantor Perwakilan UNESCO di Jakarta dengan demikian adalah untuk memperkuat respon sektor pendidikan yang layak secara budaya, ilmu pengetahuan dan strategi terhadap HIV dan AIDS di Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina dan Timor-Leste.

 

Apakah yang menjadi ukuran praktis yang telah diimplementasikan UNESCO sejauh ini dalam kelompok lima negara tersebut?

 

Kami telah mengembangkan advokasi dan bahan pelatihan guru juga menerjemahkan material ke dalam bahasa yang berbeda yang digunakan di wilayah masing-masing bersama dengan para stakeholder kunci. Sangatlah penting bahwa materi pengajaran pencegahan HIV dibuat dalam bahasa nasional untuk memastikan para guru, direktur sekolah, orangtua, dan anak-anak sendiri memiliki akses untuk mengupdate dan mengkoreksi bahan dalam bahasa yang dapat mereka mengerti untuk mencegah salah pengertian dan salah informasi. Kami juga telah bekerja dengan sekolah-sekolah menengah di seluruh Indonesia untuk mempromosikan pendidikan pencegahan HIV. Kami juga berencana untuk menjangkau 10,000 mahasiswa universitas dengan pendidikan pencegahan HIV melalui program kursus jarak jauh interaktif e-learning. Namun, sangatlah jelas masih banyak hal yang perlu untuk dikerjakan untuk menghentikan penyebaran HIV di seluruh Asia.

 

Sebagai tambahan kami juga mendukung kementerian pendidikan di seluruh negara perwakilan untuk menandai tanggal 1 Desember sebagai hari AIDS Internasional. Hal ini dilakukan dengan kerjasama erat dengan Komisi Nasional untuk UNESCO dalam negara perwakilan dan organisasi sosial masyarakat. Peristiwa ini membantu media massa dan publik untuk tetap waspada akan bahaya dari HIV dan tentang pentingnya program respon dan pencegahan efektif.

 

Apakah yang menjadi tantangan utama yang anda hadapi ketika berbicara dengan para perancang pendidikan dan para guru tentang pendidikan pencegahan HIV?

 

Pendidikan pencegahan HIV menghadapi tantangan ketika bersentuhan dengan nilai sensitifitas agama dan budaya. Promosi tentang kondom, sebagai salah satu dari banyak pengertian sebagai pencegahan HIV, adalah sensitif, karena banyak guru dan orangtua percaya bahwa dengan distribusi dan promosi tentang kondom secara tidak langsung mendorong orang muda untuk menjadi aktif secara seksual. Namun, kami mengetahui dari riset di seluruh dunia bahwa promosi kondom, ketika dilakukan sebagai bagian dari insiatif pendidikan seks yang layak, menimbulkan perilaku seksual yang bertanggungjawab di antara para kaum muda dan seringkali menunda hubungan seksual awal mereka.

 

“Anak-anak di kelas saya bekerja keras di sekolah. Orangtua mereka memiliki pengharapan yang tinggi tapi tidak semuanya dapat terpenuhi. Anak-anak mencari cara yang berbeda untuk melarikan diri dari hal ini dan banyak sekali godaannya. Jadi untuk mencegah mereka terlibat masalah kami mengajarkan tentang bahaya obat-obatan terlarang. Banyak orangtua tidak menyadari tekanan yang dihadapi anak mereka dan heran mengapa kami mengajarkan tentang obat-obatan terlarang dan pencegahan HIV di sekolah. Tapi sudah menjadi tugas kami sebagai para guru untuk meyiapkan anak-anak menghadapi dunia dengan caranya, bukan dengan cara yang kita harapkan!”

Suara dari seorang guru dari Manila, Filipina

 

Pendapat bahwa HIV adalah penyakit yang kebanyakan mempengaruhi masyarakat "pinggiran" sayangnya masih berlaku diantara para stakeholder kunci. Namun, kenyataannya bahwa persentase yang besar justru dari eksperimen kaum muda terhadap perilaku dan praktek yang akan menempatkan mereka beresiko tinggi terjangkit HIV. Tekanan teman sebaya seringkali sangat kuat selama masa perubahan. Oleh karenanya, jika seorang muda tidak diajarkan tentang konsekuensi dari perilaku beresiko tinggi mereka akan kurang dapat melindungi mereka dan membuat keputusan bijaksana tentang seks dan obat-obatan terlarang.

 

“Ketika saya berusia 13 tahun saya mencoba obat-obatan terlarang untuk pertama kali. Semua teman saya menggunakannya jadi saya juga ingin mencobanya. Saya bicara dengan orangtua saya tentang hal ini dan ingin bertanya pada mereka, tapi semua yang mereka katakan bahwa saya tidak seharusnya membicarakannya dan jika saya menggunakannya saya akan masuk ke neraka. Ini bukanlah apa yang saya butuhkan untuk didengar. Saya butuh kenyataan. Saya ingin tahu lebih tentang ini sehingga saya dapat membuat keputusan yang jelas, tapi ini tidak pernah diberikan pada saya, baik di sekolah atau di rumah. Setelah saya mulai memakai obat-obatan terlarang ini dan menyuntikannya pada diri saya, saya dan teman-teman berbagi jarum dan alat suntik. 7 tahun lalu saya mengetahui bahwa saya HIV Positif. Saya tidak tahu kapan saya tertular atau bagaimana. Saya menjalani pengobatan anti-retrovirus selama beberapa tahun dan kesehatan saya baik. Problem terbesar saya adalah masa untuk mendapat pekerjaan. Tidak banyak yang bersedia untuk mempekerjakan orang yang hidup dengan HIV, meski status saya tidak mempengaruhi kesehatan atau kemampuan kerja saya. Saya berharap saya mengetahui tentang bahaya obat-obatan ini ketika saya masih remaja. Oleh karena itu penting bagi sekolah dan orangtua untuk berbicara dengan anak mereka dan remaja tentang obat-obatan dalam usaha memerangi HIV dan obat-obatan terlarang yang berhubungan dengannya. Saat ini respon dari terlalu banyak adalah dengan mudah mengabaikan fakta tentang apa yang sedang terjadi di sekolah dan rumahtangga di seluruh Indonesia."

Suara dari seorang pemuda yang hidup dengan HIV di Jawa Barat, Indonesia

 

Di sebagian wilayah kepercayaan tentang “takdir” sangat kuat dan berpengaruh pada setiap aspek kehidupan. Infeksi HIV kadang dilihat sebagai bagian dari takdir seseorang dan sebagai hukuman dari Tuhan. Pendekatan yang fatal ini sering menghalangi seseorang yang terikat dan terlibat pada perilaku beresiko tinggi untuk mendapat pencegahan yang layak. Kepercayaan yang sama umum terjadi dalam agama, budaya dan tradisi setempat, di Papua yang menjadi bagian dari Indonesia bahwa hal ini yang paling berpengaruh dalam penularan HIV.

Banyak pemuka agama menanggapi secara negatif terhadap promosi tentang kondom ini karena hal ini mendorong pergaulan dan juga bertentangan dengan ajaran agama. Bagaimana anda merencanakan untuk menanggapi sikap ini dan memastikan bahwa kaum muda belajar tentang sex yang lebih aman dan mengetahui arti dan cara dalam melindungi diri mereka terhadap HIV dan penyakit seksual menular lainnya?

 

Hal ini adalah sebuah tantangan tapi ada sebuah ruang bagi keoptimisan. Sangatlah penting untuk menyadari bahwa orang tidak berhubungan seks hanya karena tersedianya kondom. Namun, jika mereka menggunakan kondom ketika berhubungan seksual ini akan mengurangi jumlah kehamilan yang tidak diharapkan dan kaum muda sedikit yang tertular HIV dan penyakit seksual menular lainnya. Sangatlah penting untuk menjangkau kaum muda dengan pesan ini. Ini kenapa program e-learning bagi mahasiswa sangat penting, karena akan dapat menjangkau 10,000 kaum muda, banyak dari mereka akan menjadi pelaku profesional (seperti guru, direktur, dan dinas pendidikan) ketika mereka telah lulus kuliah, yang akan menolong respon sektor pendidikan terhadap HIV dan AIDS menjadi lebih efefktif di masa depan. Lebih jauh, di Indonesia sebagai contoh, pemimpin agama telah membentuk sebuah jaringan kerja yang disebut " Interna" (The Indonesian Interfaith Network on HIV and AIDS) yang secara teratur bertemu untuk mengemukakan tantangan-tantangan ini. Dalam seminar baru-baru ini, mereka bertemu untuk mengadaptasi sebuah modul dari Afrika tentang bagaimana melakukan pendidikan pencegahan HIV bagi para pemuka agama, di bawah dukungan dari World Vision International. Dalam seminar lain, kelompok bertemu untuk memfokuskan pada penemuan versi dalam Al-Quran dan pernyataan Hadits tentang non-stigma dan diskriminasi, cinta dan kasih dan menolong orang yang memerlukan bantuan dan dukungan. Pemuka agama di banyak negara di Asia Tenggara memiliki pengaruh yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari rata-rata orang dan kelompok yang merupakan sebuah kesempatan untuk penyebaran informasi dan pengetahuan.

 

Kami menyadari bahwa menahan hawa nafsu dan setia pada pasangan adalah langkah-langkah pencegahan penting. Selain itu, kami juga menyadari bahwa penggunaan kondom juga merupakan alat pencegahan efektif dalam kasus mereka yang bukan pasangannya.

 

Statement from International pre-conference Muslim Workshop on HIV/AIDS - Bangkok (2004)

 

Kami berharap UNESCO dan organisasi lain bekerja dalam bidang pencegahan HIV dan mendapat tanggapan yang sukses tentang hasil kerja mereka, karena program pendidikan pencegahan HIV yang efektif akan menyelamatkan kehidupan generasi masa depan dari kaum muda Asia

Read 497 times Last modified on Friday, 21 March 2014 13:26
Super User

Aenean volutpat adipiscing mi. Maecenas a aliquam diam. Curabitur auctor, nulla ut rhoncus semper, mauris eros hendrerit m.

Website: www.7studio.eu

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

From our Blog

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Sejarah Binsus

"didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu" - Amsal 22 : 6 Dari kesaksian firman Tuhan ini mengartikan bahwa pendidikan adalah mandat dari Sang Pencipta kepada orang... Read more

21-03-2014 Binsus

Super User Hits:1373

Tentang Binsus

SMA Kristen 2 (Binaan Khusus) Tomohon (kata "Binaan Khusus" biasa disingkat Binsus) atau yang biasa disebut Binsus Tomohon atau Smaker Binsus adalah salah satu sekolah berasrama yang terletak di Kota Tomohon provinsi Sulawesi Utara. Kata 'Binsus' menandakan bahwa siswa-siswi SMA... Read more

21-03-2014 Binsus

Super User Hits:1954

Soundtrack in our new production

That's nice paper said . It's just pure, can be used a wide range of products , the time that platform. This week around the world the United States, but across the country takes a lot of , various downtown... Read more

18-01-2012 Artikel

Super User Hits:519

About Us

Few words about us

SMA Kristen 2 "binsus" Tomohon (kata "binsus" singkatan dari Binaan Khusus) atau yang biasa disebut Binsus Tomohon atau Smaker Binsus. Kata 'Binsus' menandakan siswa-siswi dididik dan dibina secara khusus.  Join us on:

Facebook blogger twitter